Rabu, 02 Juni 2010

Fenomena Anak Kabur Dari Rumah

Kadang kita kesel sama ortu yang serba ngatur dan nuntut kita cepet2 sukses, padahal dia gak bisa ngasih apa2 ke kita seperti pendidikan yg layak. kadang kita merasa hidup ini tidak adil. pengen mati. eits baca dulu nih :

Seorang remaja mendatangi seorang Bijak. Katanya : “Guru, saya sudah bosan hidup. Benar-benar jenuh. Hidup saya berantakan. Apapun yang saya lakukan selalu gagal. Saya sering berselisih paham dengan pacar dan teman saya. Orangtua saya tidak mau mengerti saya. Itu membuat saya frustrasi.  Saya ingin mati saja, Guru”.
Sang Orang Bijak tersenyum : “Oh, kamu sakit”.
“Tidak Guru, saya nggak sakit. Saya sehat. Hanya cape dan jenuh dengan kehidupan. Makanya saya ingin mati”.
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Orang Bijak meneruskan : “Kamu sakit. Penyakitmu itu bernama “Alergi Hidup”. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan. Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita menginginkan keadaan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Melakukan sesuatu kadang berhasil kadang gagal. Pertengkaran kecil dengan pacar atau teman itu wajar. Karena persahabatan tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi dalam hidup ini ? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita”.
“Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku”, kata sang Orang Bijak.
“Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup lebih lama lagi”, Remaja itu menolak tawaran sang Guru.
“Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati ?”, tanya Orang Bijak.
“Ya, memang saya sudah bosan hidup”, jawab remaja itu lagi.
“Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini… Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisanya kau minum besok sore jam enam. Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan tenang”.
Kini, giliran remaja itu menjadi bingung. Sebelumnya, semua Guru yang ia datangi selalu berupaya untuk memberikan semangat hidup. Namun, Guru yang satu ini aneh. Bukannya memberi semangat hidup, malah menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.
Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut “obat” oleh Orang Bijak tadi. Lalu, ia merasakan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai ! Tinggal satu malam dan satu hari ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.
Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama ayah dan ibunya di meja makan keluarga, yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan. Ini adalah malam terakhirnya. Ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau bercerita banyak ha. Suasananya menyenangkan. Sebelum tidur, ia berkata kepada orangtuanya ,” Ayah, ibu..Aku mencintai kalian”. Sekali lagi, karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.
Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Ia bangun dari tempat tidur, berdoa, kemudian mulai membereskan kamar tidur dan mulai membersihkan halaman rumah. Membantu ibunya menyiapkan sesuatu. Apa yang bisa ia lakukan akan ia lakukan. “Apa yang terjadi dengan dirimu Nak? Mungkin Ibu salah menilaimu selama ini, maafkan ibu ya…”
Di sekolah, ia menebarkan senyum kepada teman-temannya. Di kelaspun ia jadi anak yang rajin dan menyimak apa yang disampaikan gurunya. Teman2nya bingung,” Kok dia hari ini aneh yah?” Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan tidak menanggapi waktu ada teman yang mengejek atau menghinanya. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.
Sepulang sekolah, ia sempat membantu temannya yang tidak mengerti pelajaran yang diberikan oleh gurunya. Ia jadi peduli dengan menolong seorang kakek yang mau menyeberang jalan. Karena ia lebih peduli dengan pacarnya, sikap sang pacar pun berubah, lebih lembut dan pengertian.
Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum sore sebelumnya ?
Ia mendatangi sang Orang Bijak lagi. Melihat wajah remaja itu, rupanya Orang Bijak langsung mengetahui apa yang telah terjadi dan berkata : “Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan”.
Remaja itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Orang Bijak, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Singkat cerita, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP!
Guys The Massive dalam syair lagunya bilang,”Syukuri apa yang ada..hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik….”

Sumber : http://www.rumahcurhat.com/bosan-hidup/

Baca Juga Artikel Ini



Bookmark and Share